Tentang Kabupaten Blitar

Kabupaten Blitar terletak di ujung selatan Jawa Timur, berbatasan langsung dengan Kabupaten Kediri di utara, Samudra Hindia di selatan, Kabupaten Tulungagung di barat dan Kabupaten Malang di timur. Pusat pemerintahan kabupaten dengan luas 1.588,79 Km2 ini terletak di Kanigoro, dimana sebelumnya merupakan bagian dari kota Blitar.
Secara geografis, Kabupaten dan Kota Blitar terletak di kaki gunung Kelud, gunung api strato yang masih aktif sampai sekarang. Dari keadaan alam itu, daerah kabupaten dan kota Blitar selalu menjadi wilayah yang terkena lahar gunung Kelud sejak bertahun-tahun, terhitung sejak 1331.
Keadaan tanah di daerah Blitar yang kebanyakan berupa tanah vulkanik, mengandung abu letusan gunung berapi, pasir dan napal, yaitu batu kapur yang tercampur dengan tanah liat. Tanah semacam itu disebut regosol yang dapat dimanfaatkan untuk menanam padi, tebu, tembakau dan sayur mayur.
Faktanya, selain hijaunya persawahan yang kini mendominasi pemandangan alam di daerah Kabupaten Blitar, di daerah ini juga merupakan penghasil tembakau yang sudah ada sejak jaman Belanda di abad ke 17. Bahkan kemajuan ekonomi Blitar pernah ditentukan dengan keberhasilan atau kegagalan produksi tembakau.
Selain di pengaruhi oleh Gunung Kelud, Blitar pun merupakan areal yang dialiri oleh sungai Brantas, sungai yang terpanjang kedua di Jawa Timur setelah Bengawan Solo, dimana sebagian masuk wilayah Jawa Tengah. Sungai ini memegang peranan penting dalam sejarah politik maupun sosial di Provinsi Jawa Timur dan memiliki substansi penting untuk kesuburan tanah.
Sejak dulu, Sungai Brantas memiliki peran yang penting bagi berdirinya satu kerajaan. Hal ini menimbulkan pemikiran bahwa tiga daerah subur di Jawa, yaitu Malang, Kediri dan Mojokerto berdiri karena ada sungai Brantas. Secara fakta, kerajaan-kerajaan besar seperti kerajaan Kediri, kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit semuanya beribukotakan di daerah yang dekat dengan aliran sungai Brantas.
Seperti kabupaten yang lain di Jawa Timur, Blitar juga memiliki obyek wisata yang potensial untuk dikunjungi, seperti: Candi Penataran yang merupakan candi Hindu tua, Pantai Tambakrejo dengan deburan ombaknya yang fantastis, Pantai Serang yang sering mengadakan upacara Larung Sesaji, Makam Soekarno yang merupakan salah satu obyek wisata religi di Blitar, dan masih banyak lagi.

Blitar Fokus Kembangkan Wisata Alam

SHNet, Blitar- Kabupaten Blitar, Jawa Timur saat ini tengah fokus mengembangkan pariwisata khususnya wisata alam.
Potensi pariwisata di kabupaten yang dijuluki kota seribu prasasti ini tidak kalah dengan Kabupaten Buleleng di Bali. Destinasi wisata di Blitar cukup komplit mulai wisata alam, budaya, sejarah dan buatan.
Pertumbuhan pariwisata di Blitar pun kian tumbuh dan bersinergi dengan sektor lain dari tahun ke tahun. Pertumbuhan pariwisata di Blitar ditopang oleh lintas sektoral, mulai dari pemerintah daerah, perhutani, suasta, perorangan, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) bahkan sampai ke Bumdes.
Bupati Blitar Drs H Rijanto, MM menyebutkan, untuk pengelolaan destinasi pariwisata seperti alam dikelola oleh Pemda dan Perhutani seperti pantai, perkebunan teh dan air terjun. Kemudian Pokdarwis pun membuat dan mengembangkan destinasi wisata baru seperti Bukit Teletubies, dan Bukit Sirsak di wilayah Blitar Utara.
Dari sektor perorangan, ada destinasi wisata edukasi kuliner, seperti Kampung Cokelat dan Omah Jenang. Di destinasi ini, para wisatawan dapat belajar dan mengetahui proses pembuatan makanan olahan Jenang dan Cokelat.
“Di Umah Jenang, wisatawan dapat secara langsung menyaksikan dan melakukan cara membuat jenang dari mulai mengudek jenang, mencicipi olahannya sendiri hingga mengemasnya. Lokasi destinasi ini berada di Blitar Selatan,” ujarnya.
Perlu diingat, Blitar pun menjadi daerah yang memiliki bagian terpenting dalam sejarah kerajaan dan republik Indonesia. Prasasti para raja dari Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit ada di Blitar. Kemudian Bung Karno Presiden RI Pertama pun berasal dari Blitar.
Ia menyebut, Candi Panataran pernah menjadi peraduan dan semedi Raja Kediri, Singosari, dan Majapahit. Candi Sawentar untuk peraduan Raja Toh Jaya, Candi Kleri, peraduannya Ronggowuni, Candi Simping peraduannya Raden Wijaya.
“Kabupaten Blitar tidak dapat dilepaskan dari sejarah kerajaan besar di Nusantara seperti Singosari, Kediri dan Majapahit. Kemudian, Blitar pun memiliki tiga pahlawan, salah satunya adalah Soekarno,” kata Rijanto.
Tahun ini, pemerintah Kabupaten Blitar sedang berjuang menyelesaikan Peraturan Daerah (Perda) untuk Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Daerah (RIPPDA) ke DPRD. Sebab multi player efek dari Pariwisata itu sangat luar biasa untuk perekonomian warga.
Sejujurnya, meskipun potensi pariwisata di Blitar ini sangat melimpah, akan tetapi masih belum mendongkrak PAD Blitar. Oleh karena itu, perlu adanya revisi Perda yang tahun ini harus selesai. Jika RIPDA ini selesai, Pemda Blitar yakin pariwisata akan melesat jauh untuk kemakmuran dan kesejahteraan warganya. (Stevani Elisabeth)

10 Tempat Wisata Hits di Blitar yang Sungguh Instagramable!

Blitar. Kabupaten terkecil kedua di provinsi Jawa Timur ini memiliki prinsip “Kridho Hangudi Jaya” (bekerja keras untuk mencapai yang mulia) dan motto “Blitar Kota Patria”. Hal ini tentu saja segaris dengan sektor wisatanya. Belakangan, Pemkab Blitar kian meningkatkan sektor wisata sebagai senjata utama untuk ekonomi daerah.
Meski sedikit ‘dilupakan’ oleh para pelancong yang kebanyakan berhilir ke daerah lain di Jawa Timur, ternyata Blitar memiliki destinasi wisata yang sungguh dan sangat rekomended. Berikut, Ngadem.com rangkum 10 tempat wisata hits di Blitaryang sungguh instagramable!

1. Kedung Entong; surga wisata alam di Blitar yang harus masuk list destinasimu

Foto by @bendottetapsemangat
Nah, destinasi wisata alam ini terbilang baru di Blitar. Tempatnya masih sangat sepi dan jarang sekali ada wisatawan luar daerah yang datang. Memang letaknya yang terbilang cukup tersembunyi menjadikan Kedung Entong tempat yang pas untuk menghilangkan penat. Lokasinya berada di Desa Pulerejo, Kecamata Bakung, Blitar. Untuk mencapai tempat ini kamu bisa melewati rute Blitar – Kademangan – Suruhwadang – Maron dan Pulerejo. Setelah sampai di Desa Pulerejo, kamu bisa tanya warga setempat di mana letak Kedung Entong.

2. Asiknya ngadem di Pantai Umbul Waru

Foto by @bendottetapsemangat
Bukan hanya Malang, Pacitan dan Jogja yang memiliki pantai dengan air terjun. Blitar pun ada. Terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Bakung, Blitar. Pantai ini bernama Pantai Umbul Waru dan bisa dibilang salah satu pantai yang cukup sempit dibandingkan pantai lain di Blitar. Di tempat ini kamu bisa ngadem sambil melihat ombak dan burung-burung yang saling berkejaran. Karena arus ombaknya yang terbilang besar, jangan berenang ya… cukup di pinggirannya saja. Kamu masih bisa kok menikmati alam raya Blitar dari tebing-tebing cantik di Pantai Umbul Waru.

3. Menilik jejak-jejak sejarah masa lampau Kota Blitar di Candi Penataran

Foto by @papungan
Candi yang dipercaya bernama Candi Palah ini merupakan kompleks candi berlatar belakang Hindu yang sudah ada sejak kerajaan Kediri. Terletak di Desa Panataran, Kecamatan Nglegok, Blitar. Di tempat ini kamu bisa melihat jejak-jejak sejarah masa lampau Kota Blitar yang ikonik. Posisinya yang berada di lereng barat daya Gunung Kelud akan memberikan sensasi tersendiri saat kamu mengujungi Candi Panataran. Kian waktu, banyak anak muda di Blitar yang mengujungi tempat ini. Mereka tak melulu lari ke pantai dan tembus di gunung. Jadi, sesekali, cobalah kunjungi wisata sejarah di Blitar yang tentu saja oke punya.

4. Lihat Ikan Dewa di Beningnya air Rambut Monte

Foto by @yudhidws
Destinasi wisata alam Blitar ini terletak di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari. Jaraknya kurang lebih 30 km dari kota Blitar. Di sini kamu akan disuguhkan pemandangan hijau dari perkebunan teh dan ladang persawahan warga setemmpat. Yang menarik dari tempat ini adalah; adanya sebuah telaga, candi, dan petilasan yang sungguh berbeda dari tempat wisata lain di Jawa Timur. Kamu bisa ngadem di sini, duduk bersantai sambil menikmati desir angin yang akan mengugurkan penatmu. Oh ya, meski airnya yang bening itu, kamu tidak diperbolehkan untuk berenang, loh. Kok? Sebab di dalam telaga itu ada ikan, yang masyarakat setempat menyebutnya Ikan Dewa.

5. Mandi sampai puas di Air Terjun Grenjeng

Foto by @riokurr
Air Terjun Grenjeng ini terletak di Desa Balerejo, Kecamatan Panggungrejo, Blitar. Karena lokasinya yang cukup tersembunyi, air terjun Granjeng masih jarang dikunjungi. Di tempat ini kamu akan disuguhan pemandangan alam khas Blitar yang sungguh menawan. Kamu juga bisa berenang dan mandi di bawah grujuganair terjunnya. Untuk mencapai titik lokasi, dari Pasar Binangun kamu bisa langsung ke arah Panggung Rejo. Setelah itu, ikuti jalan sampai bertemu pertigan, bila belok kanan ke Panggung Rejo, bila lurus terus ke arah Lodoyo. Nah, kamu ambil yang kanan. Ikuti jalan sampai bertemu Desa Balerejo. Dari sini, lurus terus sampai bertemu perempatan. Belok kanan dan kamu akan melihat petunjuk jalan ke Air Terjun Grenjeng.

6. Nyantai asik di Curug Moncar

Foto by @bendottrtapsemangat
Foto by @bendottrtapsemangat
Destinasi wisata alam Blitar ini terletak di Desa Bakung, Kecamatan Bakung, Blitar. Namanya memang masih belum terkenal di Jawa Timur, tapi keindahannya sungguh tak bisa diragukan. Akses jalannya terbilang mudah karena sudah beraspal. Di tempat ini kamu bisa ngadem sambil foto-foto bersama pacar atau teman sejati. Yang menarik adalah; di Curug Moncar kamu akan menemui hewan endemik Dekapoda (kepiting kecil) dan kumpulan ikan pemanjat yang bersembunyi di bawah bebatuan. Ikan ini terbilang unik, karena bisa hidup di daratan untuk beberapa menit. Sayangnya, Curug Moncar masih belum dapat perhatian Pemkab Blitar sebagai destinasi wisata.

7. Merasakan nuansa alam Blitar di Air Terjun Tirto Galuh

Foto by @kopicete
Air terjun yang memiliki pesona menawan ini oleh masyarakat Blitar lebih dikenal dengan nama Kedung Malang. Letaknya berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Bakung, Blitar. Lokasinya tak terlalu jauh dari Monumen Trisula Blitar. Di sini kamu akan melihat panorama alam yang masih sangat asri. Alamnya yang sejuk, udaranya yang segar dan kicau burung yang merdu akan membuatmu betah berlama-lama di sini. Kian hari, Air Terjun Tirto Galuh kian ramai dikunjungi wisatawan dari luar Kota Blitar.

8. Curug Badrun; tempat wisata baru di Blitar

Foto by @deaatmaji
Destinasi wisata alam di Blitar ini berada di sungai perbatasan antara Desa Bululawang dan Desa Tumpakoyot, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar. Curug Badrun memang belum banyak dikunjungi para wisatawan, itulah mengapa tempat ini masih sangat bersih dan jauh dari sampah-sampah. Bagi warga di luar Blitar, Curug Badrun memang belum setenar wisata lain di Jawa Timur. Namun tentu saja keindahannya tak bisa dipandang sebelah mata. Untuk mencapainya tidak terlalu sulit, jalannya pun kebanyakan sudah beraspal.

9. Cari sunset terbaik di Blitar? Coba deh ke Pantai Serang

Foto by @ainurroziq
Foto by @ainurroziq
Keberadaan Pantai Serang menjadikan warga Jawa Timur, khususnya Blitar bangga hati. Pantai yang berada di pesisir Samudra Hindia, atau lebih tepatnya di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo ini memang selalu jadi destinasi wisata favorit. Selain pesona sunset-nya yang eksotis, Pantai Serang juga sering mengadakan ritual tradisional yang sering disebut masyarakat jawa sebagai larung saji. Untuk mencapainya, kamu membutuhkan waktu tempuh sekitar ½ jama dari Kota Blitar. Di tempat ini kamu bisa bermain air sampai puas, foto-foto atau sekedar ngadem cantik. Pasirnya yang berwarna putih, membuat Pantai Serang berbeda dengan pantai lainnya di Blitar. Jadi sepertinya harus masuk dalam list destinasi wisatamu nih!

10. Satu lagi nih wisata baru di Blitar: Gua Luweng

Foto by @islah_agus
Destinasi wisata yang beberapa waktu belakangan marak diperbincangkan di medsos ini berada di Dusun Prodo, Desa Ngrejo, Kecamatan Kademangan, Blitar. Untuk mencapainya kamu akan membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 sampai 2 jam dari Kota Blitar. Yang menarik dari tampat ini adalah; adanya air terjun kecil di dalam gua. Nah, setidaknya ada 10 air terjun kecil dalam gua ini yang menjadi ikon dari Gua Luweng.

PATRIA PALACE HOTEL

Hotel Patria Palace Blitar Berdiri pada tahun 2010, yang merupakan cabang ketiga dari Patria Hotel Group Blitar. Terletak ditengah kota Blitar dengan nuansa interior yang eksklusif lebih memeberikan rasa kenyamanan anda sekeluarga.
Food & Beverages – Cafe Patria
Menyediakan aneka hidangan pilihan rasa mulai dari chinesse, Indonesian, dan Western food yang lezat. Selain itu juga tersedia paket katering untuk event meeting, seminar, wedding, ulang tahun dan lain-lain.

Kuliner, Sahabat Karib Pariwisata Indonesia


    Indonesia dianugerahi kekayaan alam luar biasa yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Begitu pun dengan ragam kuliner di setiap daerah. Keduanya saling bersahabat menjadi kekuatan pariwisata Nusantara.

Tuhan sangat bermurah hati pada Indonesia. Dari darat, laut, bahkan udara, Indonesia dianugerahi panorama alam yang elok tiada tara. Keindahan yang bertebaran di hampir seluruh daerah yang membentang dari Sabang sampai Merauke menjadikan Indonesia pantas disebut Zamrud Khatulistiwa.

Tak hanya kaya dengan lukisan alam ciptaan Sang Kuasa, Indonesia juga kaya dengan bahan makanan dan ragam kuliner. Duet ragam kuliner dan kekayaan alam inilah yang menjadi magnet luar biasa bagi pariwisata Indonesia.

Selain menikmati keindahan alam, bukan rahasia lagi, para wisatawan gemar berburu kuliner khas berbagai daerah di Indonesia. Kuliner atau masakan Indonesia kondang sebagai kuliner dengan cita rasa komplet dan kuat. Ragam kuliner Nusantara juga mencerminkan beragam dan kuatnya tradisi tempat kuliner itu berasal.

Dengan kata lain, ragam kuliner menjadi cerminan ragam budaya Nusantara. Dari ragam kuliner, para wisatawan tak sekadar berwisata namun juga mengenal budaya berikut kearifan lokal. Kuliner berkembang sebagai seni tata boga atau gastronomi yang tak kalah menarik untuk ditelusuri.

Seperti disebutkan Esthy Reko Astuti, Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara pada Kementrian Pariwisata, daya tarik kuliner mencapai 30 hingga 50 persen dan menyerap tenaga kerja hingga 30 persen. Data menunjukkan, hampir 50 persen wisatawan menghabiskan waktu dan budget untuk wisata kuliner.

Hal senada diungkapkan Desi Trisnawati. Menurut Juara MasterChef Season2 ini, kuliner adalah mata tombak dunia pariwisata. Kuliner bisa menciptakan repeat customer. Orang berwisata tak hanya menikmati alam, seni, dan budaya, namun juga petualangan kuliner.

Kuliner Pariwisata Indonesia - Bakso
Kearifan Lokal

Tak terbantah lagi, kuliner dan pariwisata adalah simbiosa mutualisma. Hubungan yang saling menguntungkan itu bahkan menempatkan ragam kuliner sebagai alat promosi dan positioning destinasi yang sangat efektif.

Jangan heran jika saat ini berbagai daerah di Indonesia berlomba-lomba mengoptimalkan kekayaan kulinernya sebagai daya jual wisata. Ragam kuliner legendaris pun makin dimunculkan dan dikembangkan sebagai kekayaan lokal.

Kuliner legendaris menjadi pembeda satu daerah dengan daerah lainnya. Bukan hanya menyangkut kekhasan bahan dan rempah-rempah yang ada di dalamnya. Namun, kuliner legendaris pada gilirannya adalah bicara tentang kearifan lokal.

Ada banyak pelajaran diberikan lewat ragam kuliner, baik dari sisi bahan, teknik memasak hingga filosofi yang ada di dalamnya. Inilah sisi menarik petualangan kuliner. Jangan heran jika beberapa negara sangat fokus pada kekuatan kuliner seperti Jepang, Italia, dan Perancis.

Kuliner Pariwisata Indonesia - Soto
Rempah dan Akulturasi Budaya

Indonesia dikenal sebagai negara kaya rempah-rempah. Itulah sebabnya, sejak dulu Indonesia berperan aktif dalam perdagangan dunia. Akulturasi budaya akibat perdagangan tersebut juga menyentuh ragam kuliner Nusantara.

Ragam rempah seperti kemiri, cabai, lengkuas, jahe, kencur, kunyit, kelapa, dan gula aren pun “kawin” dengan gaya meramu masakan dari India, Cina, Timur Tengah, dan Eropa. Hasilnya, ragam kuliner Nusantara pun makin kaya. Jadilah, Indonesia adalah surga kuliner yang sangat memanjakan lidah penikmatnya.

Ibaratnya, apa pun ada di Indonesia. Jangan heran jika sosok sekaliber Presiden AS Barack Obama pun masih terkesan dengan bakso dan nasi goreng khas Indonesia.

Bakso adalah menu yang bisa dijumpai hampir di seluruh daerah di Indonesia. Makanan olahan daging yang di luar negeri disebut sebagai meatball ini adalah salah satu ragam kuliner produk akulturasi budaya.

Hanya saja, bakso Indonesia menjadi sangat khas karena berbagai daerah menyajikan menu favorit ini dengan kreativitas masing-masing. Jangan heran jika kemudian muncul aneka bakso seperti bakso Malang, bakso Wonogiri dan lainnya.

Hal senada terjadi dengan nasi goreng yang banyak dipengaruhi budaya Cina dan belakangan Timur Tengah. Hasilnya, ada banyak modifikasi nasi goreng yang jadi unggulan berbagai daerah. Bahkan, nasi goreng melenggang masuk dalam daftar menu hotel-hotel atau restoran kelas atas. Ibaratnya, nasi goreng bisa ditemui dari kaki lima hingga hotel bintang lima.

Kuliner Pariwisata Indonesia - rendang
Rendang yang Mendunia

Begitu banyak ragam kuliner Indonesia yang khas dan unik. Beberapa di antaranya bahkan sudah dikenal dunia. Rendang, misalnya.

Masakan khas Minang ini tak hanya diterima di hampir semua daerah di Indonesia. Rendang juga tak hanya jadi makanan wajib saat Lebaran. Namun, kuliner berbahan dasar daging dengan bumbu rempah yang sangat kuat ini juga telah diakui sebagai salah satu kuliner terlezat di dunia.

Masih banyak kuliner tradisi Indonesia yang sudah kondang ke mancanegara. Bahkan, kerap menimbulkan kerinduan wisatawan untuk kembali lagi menikmatinya seperti gudeg Yogya, bubur Manado, ayam taliwang dari Lombok, ayam betutu dari Bali, dan aneka soto dari berbagai daerah.

Ya, tak beda dengan bakso, soto juga bisa dijumpai hampir di setiap daerah di Indonesia. Bumbu rempah yang digunakan juga beragam di setiap daerah. Dari soto Kudus, Bandung, Betawi, Madura, Lamongan, hingga soto Makassar atau Coto Makassar tampil beda dengan kekhasan bahan dan bumbu rempahnya masing-masing.

Tak terbantah lagi, ragam kuliner adalah penggerak pariwisata dan perekonomian masyarakat. Kuliner menjadi ceruk bisnis yang sangat menjanjikan dan berjangka panjang. Seperti dikatakan Desi Trisnawati, kuliner dan pariwisata adalah perfect combination.

Itulah sebabnya sejak jauh-jauh hari Menteri Pariwisata Arief Yahya mencanangkan Indonesia siap menuju destinasi wisata kuliner terfavorit di dunia yang berdaya saing. Promosi pun terus digenjot untuk meningkatkan rasa cinta dan minat masyarakat terhadap kuliner khas Nusantara.

Aku cinta masakan Indonesia, memang harus menjadi langkah awal. Selanjutnya, ragam kuliner khas Indonesia pun akan makin mendunia seiring makin maju dan tertatanya wajah pariwisata Nusantara. Keduanya harus mendapat perhatian sama untuk dibenahi agar mampu bersaing di pentas dunia. (Divdit)

Wong Tengger, Tak Kenal Kasta dan Suka Damai

si Destinasi | Oct 17, 2016 | Destinasi, Editorial
Wong Tengger, Tak Kenal Kasta dan Suka Damai

    Suku Tengger tak bisa dipisahkan dari Gunung Bromo. Wong Tengger, sebutan untuk suku asli Tengger yang tinggal di pegunungan sekitar Gunung Bromo, dikenal tak mengenal kasta dan suka hidup damai.

Suku Tengger adalah salah satu suku dengan kehidupan menarik di dunia. Suku yang mendiami kawasan pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, ini dikenal sebagai suku yang tidak menerapkan kasta dalam kehidupan sehari-hari. Itu sangat tercermin dari bahasa dan budaya yang berkembang.

Wong Tengger disebut-sebut sebagai keturunan terakhir dari peradaban Majapahit yang hidup pada periode terakhir. Berdasarkan mitos atau legenda yang berkembang di tengah suku yang mendiami wilayah  Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, dan Kabupaten Malang itu, mereka berasal dari keturunan Roro Anteng dan Joko Seger. Roro Anteng merupakan putri Raja Brawijaya sedangkan Joko Seger adalah putra seorang Brahmana. Nama Tengger pun merupakan paduan nama sepasang suami istri ini.

Berangkat dari pemikiran jika mereka berasal dari  keturunan sama yakni Roro Anteng dan Joko Seger inilah Suku Tengger tidak mengenal kasta. Satu sama lain memiliki posisi dan derajat sama sebagai saudara seketurunan. Hal itu sangat terlihat dari bahasa sehari-hari yang mereka gunakan. Kalau pun ada tingkatan hal itu lebih kepada  pembeda antara kaum muda dan tua. Contohnya, bahasa ngoko dipakai untuk berbicara dengan orang yang seumuran dan bahasa krama dipakai jika berbicara kepada orang yang lebih tua.
Jujur dan percaya karma

suku tengger (surabayaonline.co)

Mirip dengan masyarakat Bali, mayoritas masyarakat Tengger juga beragama Hindu. Bedanya, jika masyarakat Bali menganut Hindu Dharma, masyarakat Tengger memeluk agaman Hindu Mahayana. Hanya saja, prinsip yang mereka yakini kurang lebih sama. Terutama, tentang kepercayaan jika karma itu ada.

Kepercayaan akan karma inilah yang menuntun mereka menjadi pribadi yang senantiasa berusaha berjalan di jalur yang benar. Wong Tengger takut berbuat jahat seperti mencuri. Mereka berkeyakinan, apa pun yang mereka lakukan nantinya akan berbalik kepada diri mereka sendiri atau bisa berdampak buruk bagi anak cucu mereka.

Jika mereka mencuri, suatu saat harta mereka juga akan lepas dari genggaman. Begitu pun jika menyakiti orang lain. Suatu saat mereka pun akan membayar karma tersebut. Mereka akan ganti disakiti orang lain.

Keyakinan pada ajaran Hindu yang mengajarkan soal karma ini membuat masyarakat Tengger berusaha hidup jujur dan jauh dari rasa iri hati. Selain itu, masyarakat Tengger juga suka bekerja keras dan ramah. Yang terpenting lagi adalah, mereka senang hidup rukun dan cinta damai.

Seiring perkembangan zaman dan budaya, makin banyak juga Wong Tengger yang menganut agama lain. Sebagian masyarakat Tengger juga beragama Islam, Kristen, Khatolik, dan Budha.
Percaya dukun dan tetua adat

Suku Tengger (wisatabromojatim.com)

Masyarakat Tengger dikenal sangat percaya dukun. Sosok istimewa ini dianggap tak hanya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dukun juga diyakini mampu menyelesaikan berbagai masalah di tengah masyarakat. Dalam konteks dukun sebagai penyembuh, kepiawaian dukun melafalkan mantra-mantra kuno dianggap sebagai jembatan antara masyarakat luas dengan Sang Hyang Widhi yang mereka sembah.

Itulah alasan mengapa mereka selalu menghadirkan dukun dalam berbagai prosesi dan ritual penting di tengah masyarakat. Catat saja, Upacara Kasodo (Bulan Dua Belas), Pujan Kapat (Bulan Keempat), Pujan Kapitu (Bulan Tujuh), Pujan Kawolu (Bulan Delapan), Pujan Kasangan (Bulan Sembilan), Upacara Unan-unan (upacara lima tahunan), leliwet, dan entas-entas.

Tak sembarang Wong Tengger bisa menjadi dukun atau tabib. Mereka harus mampu melewati sejumlah ujian dari tetua adat seperti ujian membaca mantra. Begitu mereka dinyatakan lulus, para dukun ini selanjutnya akan mendampingi tetua adat memimpin berbagai upacara. Biasanya, ujian bagi para dukun atau tabib muda digelar sebelum Upacara Kasada.
Upacara Kasada
Hindu worshippers pray at a temple at the foot of Mount Bromo during the Yadnya Kasada Festival. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

Hindu worshippers pray at a temple at the foot of Mount Bromo during the Yadnya Kasada Festival. (Ulet Ifansasti/Getty Images)

Ada banyak upacara di tengah masyarakat Tengger. Namun yang paling besar dan selalu ditunggu-tunggu adalah Upacara Yadnya Kasada  atau Kasodo. Upacara ini dipusatkan di Pura Luhur Poten yang berada di kaki Gunung Bromo. Upacara tahunan ini digelar untuk menghormati Gunung Brahma (Bromo) yang dianggap suci oleh masyarakat Tengger.

Berdasarkan legenda yang berkembang di tengah masyarakat Tengger, upacara ini berawal dari janji Roro Anteng dan Joko Seger kepada Sang Hyang Widhi untuk menyerahkan anak bungsu mereka, Raden Kusuma, sebagai persembahan untuk Gunung Bromo.

Dikisahkan, karena tak kunjung memiliki keturunan pasangan suami istri ini bersemedi. Akhirnya dewa mengabulkan permintaan tersebut dengan syarat anak bungsu mereka nantinya harus dikorbankan. Benar saja, keduanya dikaruniai  25 putra putri. Sayangnya, kecintaan pada putra-putrinya membuat Roro Anteng dan Jaka Seger wanprestasi.

Akibatnya, dewa marah dan terjadilah prahara. Raden Kusuma tertelan kawah Gunung Bromo dan sejak itulah diwajibkan bagi masyarakat Tengger untuk menggelar Upacara Kasada. Upacara digelar tengah malam hingga dini hari setiap buan purnama. Atau, pada tanggal 14 atau 15 Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Upacara dimaksudkan sebagai penghormatan atas pengorbanan leluhur bagi kesejahteraan Suku Tengger. Selain itu, sesaji yang dilemparkan ke kawah Gunung Bromo juga menjadi wujud syukur atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah.

Selain berladang, masyarakat Tengger banyak menggantungkan hidup dengan beternak. Hasil pertanian yang banyak dihasilkan dari ladang pertanian yang ada di lereng-lereng Gunung Bromo adalah jagung, kopi, kentang, kubis, bawang, wortel dan lainnya. Wong Tengger dikenal sebagai komunitas yang sangat menjaga ladang. Mereka anti untuk menjual ladang kepada orang lain. (Divdit)











          



Hijaunya Bukit Teletubies hingga Negeri di Atas Awan

 by Redaksi Destinasi | Oct 20, 2016 | Destinasi, Editorial
Hijaunya Bukit Teletubies hingga Negeri di Atas Awan

    Tak cukup sehari dua hari menjelajahi Probolinggo. Spot-spot wisata dari lembah, ngarai, hingga air terjun dan pantai, berserakan di berbagai sudut. Belum lagi hamparan pohon mangga dan anggur yang jadi salah satu kekuatan ekonomi kota di Jawa Timur itu.

Jika tak ingin menjadi manusia merugi siapkan waktu khusus untuk menikmati berbagai keindahan dan keunikan yang tersimpan di kota satu ini. Ya, Probolinggo menawarkan spot-spot wisata komplet, dari daratan yang hijau menawan hingga wisata bahari yang tak henti mengundang decak kagum.

Probolinggo memang tak bisa dipisahkan dari Gunung Bromo yang eksotis. Faktanya, gunung berapi yang masih aktif tersebut memang berada di Kabupaten Probolinggo selain masuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Namun, kota terbesar keempat di Jawa Timur setelah Surabaya, Malang, dan Kediri itu tak hanya memiliki gunung dengan ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut itu. Probolinggo masih memiliki spot wisata lainnya yang tak kalah menarik dan cantik.

Saking banyaknya, dua hari tak cukup untuk menjelajah keindahan berbagai spot wisata tersebut. Skala prioritas harus dilakukan untuk benar-benar mendapatkan dan menikmati keindahan alam, anugerah dari Tuhan. Pertanyaannya, spot wisata seperti apa yang benar-benar diminati? Wisata gunung, lembah, ngarai, atau wisata air? Atau kesemuanya bisa dinikmati? Jawabannya adalah, mengapa tidak?
Padang savana bak negeri Teletubbies

Siapa tak tahu Teletubbies dengan kata popular, berpelukaaan? Serial kartun menggemaskan itu sangat digemari anak-anak, bahkan orang tua. Sering dikisahkan bagaimana tokoh-tokoh serial yang tayang pada rentang 1997 – 2001 itu, Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa, dan Po, bercengkerama di bukit Teletubbies.

Tak perlu jauh-jauh ke Inggris untuk merasakan nuansa bukit Teletubbies di tempat serial boneka kartun itu dibuat, Ragdoll Productions. Di Probolinggo, tepatnya di sisi selatan Gunung Bromo, ada padang savana yang dikenal dengan Lembah Jemplang.

Uniknya, padang savana yang hijau sejauh mata memandang itu sangat mirip dengan bukit Teletubbies. Tak pelak, padang savana dengan keindahan rumput yang ditata oleh tangan Tuhan itu pun dikenal sebagai Bukit Teletubbies.

madakaripura waterfall (plus.google.com)
Rangkaian air terjun

Kawasan yang terletak sekitar 100 km sebelah tenggara Surabaya ini juga tercatat sebagai kawasan yang kaya dengan air terjun. Madakaripura adalah air terjun terpopular dan tercatat sebagai salah satu air terjun tercantik di Nusantara.

Berada di Kecamatan Lumbang, air terjun Madakaripura masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Air terjun ini berbentuk ceruk dengan perbukitan hijau di sekelilingnya. Air yang terus menetes di seluruh bidang yang mengelilingi membuat Madakaripura tampil begitu eksotis.

Sekali lagi, Probolinggo tak hanya punya Madakaripura. Masih ada jajaran air terjun lainnya yang tak kalah cantik dan unik. Sebut saja, air terjun Umbulan yang berada tak jauh dari Madakaripura. Begitu pun dengan air terjun Watu Lawang yang berada di antara tebing hingga terkesan seperti ada pintu masuk atau lawang.

Selain itu, masih ada air terjun Triban yang berlokasi tak jauh dari air terjung Lawang di Desa Ngepung. Pun begitu dengan air terjun Kedung Amis, air terjun Sumber Pakis II, air terjun Darungan, dan air terjun Kali Pedati. Air terjun yang terakhir memiliki ketinggian sekitar 20 meter di lereng Argopuro. Para pecinta treking bisa mencapainya dengan menyusuri aliran Sungai Pedati yang kondang dengan keindahan tebing-tebing vertical dari bebatuan.

Wisata Probolinggo Ranu Segaran 800x533
Danau memukau

Selain tebaran air terjun, Probolinggo juga kaya dengan danau-danau yang memanjakan mata. Sebut saja, Danau Ronggojalu. Danau ini tak hanya jadi objek wisata, namun juga jadi tampungan air bersih untuk masyarakat daerah yang dikenal sebagai penghasil buah mangga dan anggur itu.

Masih ada Danau Agung atau lebih dikenal sebagai Ranu Agung. Soal panorama, jangan ditanyakan lagi keindahan yang menghiasi danau bentukan gunung berapi Lamongan ini. Danau yang berada di Desa Ranu Agung ini sangat cocok sebagai destinasi untuk menenangkan diri atau mencari inspirasi.

Begitu pun dengan Ranu Segaran, danau yang dikelilingi pegunungan hijau nan menawan. Kesejukan dan ketenangan yang ditawarkan sangat luar biasa. Atau, Danau Taman Hidup di Lembah Gunung Argopuro yang memiliki ketenangan luar biasa. Lokasi yang sering dipakai untuk berkemah itu juga banyak dihuni hewan liar cantik seperti merak hijau, lutung merah, kijang, lutung Jawa, babi butan, hingga kancil.

wisata probolinggo negeri di atas awan 800x533
Agrowisata dan bercengkerama dengan awan

Manggur, itu sebutan untuk Probolinggo yang dikenal sebagai penghasil buah mangga dan anggur yang maknyus. Kawasan Mastrip Desa Wonoasih adalah sentra anggur terbesar di Kota Angin ini. Sepanjang mata memandang ribuan pohon anggur begitu menakjubkan. Apalagi, jika musim panen dengan anggur-anggur menjuntai berwarna merah tua yang merangsang selera.

Begitu pun dengan mangga yang terkenal manis dan segar. Bulan Mei – Oktober Probolinggo akan diwarnai tumpukan mangga ranum siap kirim ke berbagai daerah, bahkan hingga ke Singapura. Ada 12 kecamatan yang dikenal sebagai sentra mangga, yakni Tongas, Pakuniran, Gading, Maron, Banyuanyar, Besuk, Wonomerto, Paiton, Leces, Kota Anyar, Tegal Sliwan, dan Krejengan. Lezatnya Arumanis dan Manalagi sudah begitu kondang.

wisata probolinggo anggur 800x533

Berbekal anggur dan mangga ranum, mari menuju Puncak B29 Bromo. Negeri di atas awan ini akan membawa kita kepada pemandangan menakjubkan. Pada ketinggian 2.900 meter di atas permukaan laut (itu sebabnya disebut Puncak B29) kita serasa bercengkerama dengan awan sembari menyaksikan keindahan matahari terbit.

Masih banyak destinasi wisata elok lainnya seperti Pantai Bentar dengan hamparan mangrove yang menawan. Atau, Gunung Argopuro dengan puncak Rengganis yang memiliki tebaran situs zaman purbakala. Begitu pun dengan Pulau Gili Ketapang yang menjadi salah satu surga bagi penyuka snorkeling.

Tebaran destinasi wisata yang sulit disebutkan satu per satu itu diimbangi ragam kuliner yang juga beragam. Sebut saja Nasi Glepungan, menu sederhana yang ngangeni. Atau Sirup Pokak dan Keripik Kentang yang khas Probolinggo. Begitu pun dengan Keripik Olok yang terbuat dari kepiting muda dengan cita rasa gurih menggoda.

Nah, tunggu apalagi? Segera agendakan perjalanan ke Probolinggo yang memiliki sederet destinasi wisata dalam berbagai ragam. Sebanyak ragam kuliner yang juga jadi kekuatan kota yang dikenal bersih dan sejuk ini. (Divdit)